PENGANTAR
OTOMASI PERPUSTAKAAN
Penyunting : Dwi Pujianto Aji, A.P
I.
PENGANTAR
Perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat pada beberapa dasa warsa terakhir ini telah menyebabkan
terjadinya perubahan pengelolaan perpustakaan. Dalam upaya memberikan pelayanan
yang lebih cepat dan optimal maka beberapa tugas dan kegiatan yang terdapat di
perpustakaan secara manual telah dialihkan ke perangkat komputer. Pengalihan
tersebut dikenal dengan otomasi perpustakaan.
Pada dasarnya Otomasi Perpustakaan merupakan suatu proses pengelolaan
perpustakaan dengan memanfaatkan teknologi informasi (TI). Pemanfaatan TI
sangat berhubungan dengan peran maupun fungsi perpustakaan sebagai kekuatan
dalam pelestarian dan penyebaran informasi ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang
berkembang seiring dengan kebutuhan manusia akan informasi. Sebagai The Preservation of knowledge maka perpustakaan
melakukan kegiatan yang meliputi memburu, mengumpulkan, mengidentifikasi,
mengelola dan menyebarluaskan informasi kepada masyarakat umum, yang dalam
perkembangannya dapat dibantu oleh peralatan teknologi kominikasi dan informasi
(ICT).
Terdapat dua bentuk pemanfaatan dan penerapan teknologi informasi yang
dikenal di di perpustakaan yaitu (1) Automasi Perpustakaan, merupakan Sistem
Informasi Manajemen (SIM) Perpustakaan yang meliputi kegiatan pengadaan,
inventarisasi, katalogisasi, sirkulasi bahan pustaka, pengelolaan anggota,
statistik dan lain sebagainya. (2)
Perpustakaan Digital, merupakan sarana untuk menyimpan, mendapatkan dan menyebarluaskan
informasi ilmu pengetahuan dalam format digital.
Kedua fungsi penerapan teknologi informasi ini dapat terpisah maupun
terintegrasi dalam suatu sistem informasi tergantung dari kemampuan software
yang digunakan, sumber daya manusia dan infrastruktur peralatan teknologi
informasi yang mendukung keduanya.
II.
TUJUAN DAN MANFAAT
Menurut Salmon (1985 : 20) alasan
yang valid untuk mengaplikasikan komputer (automasi) di perpustakaan, antara
lain ialah untuk melakukan sesuatu yang lebih baik, lebih cepat atau lebih
murah dibanding dengan sistem manual; atau untuk memberikan suatu pelayanan
baru.
Sedangkan Duval
dan Main (1992) menyatakan, bahwa alasan untuk melakukan automasi di
perpustakaan, adalah yang paling sering dijumpai dan dikutip yaitu meningkatkan
efisiensi pemrosesan (increased processing efficiency), memperbaiki
layanan kepada pengguna (improved service to users), penghematan dan
penekanan pembiayaan (saving money and containing cost), memperbaiki
administrasi dan informasi manajemen (improved administrative and management
information).
Berdasarkan
pendapat tersebut maka dapat disimpulkan bahwa penerapan otomasi perpustakaan
pada dasarnya bertujuan dan bermanfaat untuk :
1.
Meningkatkan layanan perpustakaan
2.
Memenuhi tuntutan masyarakat dalam memperoleh
informasi yang cepat dan tepat
3.
Efisiensi waktu, tenaga dan (dana ?)
4.
Membantu validitas data
5.
Lebih memudahkan dan mempercepat penelusuran informasi
6. Meningkatkan
citra perpustakaan dalam era globalisasi informasi
III.
UNSUR-UNSUR OTOMASI DI PERPUSTAKAAN
Terdapat beberapa unsur dalam pelaksanaan otomasi
perpustakaan antara lain:
A.
Perangkat Keras (Hardware), merupakan unsur yang bersifat tangible (dapat dilihat, diraba,
di sentuh bentuknya) dalam pengembangan otomasi perpustakaan sebagai unsur
pembangun sistem informasi dengan memanfaatkan perangkat teknologi. Yang
dimaksud perangkat keras disini adalah sebuah komputer dan alat bantunya
seperti Printer, Barcode, Scanner, dsb. Otomasi perpustakaan yang paling kecil
dapat hanya menggunakan sebuah komputer, maka proses otomasi sederhana dapat berjalan. Sedangkan untuk perpustakaan besar maka pasti
diperlukan beberapa komputer dan pelengkapnya agar pelayanan kepada pengguna
menjadi lancar.
Spesifikasi minimalis untuk sebuah komputer dalam proses otomasi :
1) Pentium IV
2) Memori 256 MB
3) HD 80 Gbyte
4) Monitor 14 Inc, minimal 16 color
5) Printer Dot Matrix. & Ink Jet
6) Barcode Scanner (Optional)
7) WebCam (Optional)
2) Memori 256 MB
3) HD 80 Gbyte
4) Monitor 14 Inc, minimal 16 color
5) Printer Dot Matrix. & Ink Jet
6) Barcode Scanner (Optional)
7) WebCam (Optional)
Dalam memilih perangkat keras yang pertama adalah
menentukan staf yang bertanggung jawab atas pemilihan dan evaluasi hardware
sebelum transaksi pembelian. Adanya staf yang bertanggung jawab adalah untuk
mengurangi ketergantungan terhadap pihak lain dan menghindari dampak buruk yang
mungkin timbul. Hal lain adalah adanya dukungan teknis serta garansi produk
dari vendor penyedia komputer.
B. Perangkat
Lunak (Software), merupakan metode atau
prosedur interaksi antara manusia dengan komputer (hardware) sebagai komponen
yang intangible artinya tidak dapat disentuh maupun diraba bentuknya. Perangkat
lunak lebih mengarah kepada bahasa pemrograman artinya sebagai alat bantu dalam
efisiensi dan efektifitas proses. Dengan perkembangan dan peningkatan tuntutan
konsumen maka perangkat lunak sekarang harus mampu diaplikasikan
dalam berbagai sistem operasi, mampu menjalankan lebih dari satu program dalam
waktu bersamaan (multi-tasking),
kemampuan mengelola data yang lebih handal, dapat dioperasikan secara
bersama-sama (multi-user).
Terdapat 4 (empat) cara
untuk memperoleh perangkat lunak, yaitu :
1)
Membangun sendiri (inhouse
development) hal ini dimungkinkan apabila di instansi memiliki dan mempunyai tenaga programer, langkah ini bisa
dilakukan karena dapat menghemat biaya serta lebih sesuai dengan kebutuhan
pengelolaan perpustakaan nya sendiri.
2)
Membeli perangkat lunak komersial beserta training dan
supportnya yang dibangun oleh pihak ketiga (softwarehouse)
dengan bantuan seorang developer perangkat lunak. Cara ini dikenal dengan COTS
(commercial Off the Shelf Software)
atau Turn-key. Dalam hal ini terpaku
pada model dan proses yang telah ditawarkan oleh vendor (pembuat software). Pemanfaatannya relatif mudah
karena hanya mengimplementasikan saja. Biasanya Training dan Support selama
beberapa periode waktu juga akan diberikan oleh vendor secara penuh sehingga
pengguna dapat langsung menggunakan tanpa harus bersusah payah lagi. Pilihan
ini dapat dipilih jika terdapat dana untuk membeli perangkat lunak.
3)
co-development software artinya gabungan antara
membeli tetapi kodel dan proses disesuaikan dengan kebutuhan pembeli. Artinya
dilakukan bersama antara instansi pengguna dan softwarehouse .
4)
Menggunakan perangkat lunak gratis atau opensource, misalnya : CDS/ISIS,
WinISIS, KOHA, SIPUS 2000, Senayan dsb. Perangkat lunak ini bisa didapatkan
dari internet karena didistribusikan secara gratis kepada kalangan
perpustakaan. Dalam pemanfaatannya perlu dimodifikasi lebih lanjut agar sesuai
dengan kebutuhan instansi masing-masing.
Oleh Corbin
(1985 : 9-14) metode pengadaan automasi perpustakaan dibagi atas 4 (empat),
yaitu membeli sistem turnkey (turnkey systems), mengadaptasi sistem (adapted
systems), mengembangkan sistem lokal (locally development systems),
dan menggunakan sistem bersama (shared systems).
C.
Sumber Daya Manusia (brainware), yaitu
pengelola perpustakaan/pustakawan yang memiliki kemampuan penguasaan
perpustakaan dan ketrampilan pemanfaatan TI.
Sehingga petugas harus dapat melayani keperluan pengguna seperti
permintaan akan akses yang lebih cepat ke informasi yang diperlukan dari dalam
maupun luar perpustakaan. Oleh karena itu
pustakawan harus: (1) Faham akan maksud dan ruang lingkup dan unsur dari otomasi
perpustakaan; (2) Faham dan bisa mengapresiasi pentingnya melaksanakan analisis
sistem yang menyeluruh sebelum merencanakan desain sistem; (3) Faham akan dan
bisa mengapresiasi manfaat analisis sistem dan desain, implementasi, evaluasi
dan maintenance.; (4) Faham akan proses evaluasi software sejalan dengan
proposal sebelum menentukan sebuah sistem; (5) Faham akan dan bisa
mengapresiasi pentingnya pelatihan untuk staf dan keterlibatan mereka dalam
seluruh proses kerja.
Pada sistem otomasi perpustakaan terdapat beberapa tingkatan operator
tergantung dari tanggung jawabnya, yaitu :
1) Supervisor.
Merupakan operator dengan wewenang tertinggi. Supervisor dapat mengakses dan mengatur beberapa konfigurasi dari sistem sekaligus dapat pula melakukan proses auditing.
Merupakan operator dengan wewenang tertinggi. Supervisor dapat mengakses dan mengatur beberapa konfigurasi dari sistem sekaligus dapat pula melakukan proses auditing.
2) Operator
Administrasi.
Beberapa proses pendaftaran anggota, pelaporan dan beberapa proses yang digunakan untuk urusan administrasi dapat ditangani oleh operator ini.
Beberapa proses pendaftaran anggota, pelaporan dan beberapa proses yang digunakan untuk urusan administrasi dapat ditangani oleh operator ini.
3) Operator
Pengadaan dan Pengolahan.
Untuk urusan pengolahan koleksi buku dapat ditangani oleh operator dengan wewenang ini, dari proses pemasukan data hingga proses finishing seperti cetak barcode, lidah buku dan label punggung.
Untuk urusan pengolahan koleksi buku dapat ditangani oleh operator dengan wewenang ini, dari proses pemasukan data hingga proses finishing seperti cetak barcode, lidah buku dan label punggung.
4)
Operator Sirkulasi.
Operator ini bertugas untuk melayani pengguna yang hendak meminjam/memperpanjang/mengembalikan koleksi ataupun yang hendak membayar tanggungan denda.
Operator ini bertugas untuk melayani pengguna yang hendak meminjam/memperpanjang/mengembalikan koleksi ataupun yang hendak membayar tanggungan denda.
D. Pengguna
(User) adalah masyarakat yang memanfaatkan perpustakaan dalam menelusur untuk
mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Dalam
pembangunan sistem perpustakaan hendaknya selalu dikembangkan melalui
konsultasi dengan pengguna-penggunanya yang meliputi pustakawan, staf yang
nantinya sebagai operator atau teknisi serta para anggota perpustakaan/
pengguna.
E. Data, merupakan kumpulan
bahan baku informasi yang meliputi : jenis dan jumlah koleksi, jenis layanan,
sistem pengolahan yang secara keseluruhan merupakan kumpulan data
kegiatan-kegiatan yang dicatat oleh perpustakaan. . Data
terbentuk dari karakter, dapat berupa alfabet, angka, maupun simbol khusus
seperti *, $ dan /. Data disusun mulai dari bits, bytes, fields, records, file
dan database.
F. Network
/ Jaringan komputer telah menjadi bagian dari automasi perpustakaan karena
perkembangan yang terjadi di dalam teknologi informasi sendiri serta adanya
kebutuhan akan pemanfaatan sumber daya bersama melalui teknologi.
Komponen perangkat keras jaringan antara lain :
komputer sebagai server dan klien, Network Interface Card ( LAN Card terminal
kabel (Hub), jaringan telepon atau radio, modem. Beberpa hal yang harus diperhatikan dalam membangun
jaringan komputer adalah : (1) Jumlah komputer serta lingkup dari jaringan
(LAN, WAN); (2) Lokasi dari hardware : komputer, kabel, panel distribusi, dan
sejenisnya; (3) protokol komunikasi yang digunakan dan (4) menentukan staf yang
bertanggun jawab dalam pembangunan jaringan.
IV.
KENDALA/HAMBATAN YANG DIHADAPI DAN
SOLUSINYA
Kendala
yang dihadapi dalam mengembangkan otomasi perpustakaan antara lain :
1.Kurangnya
pengetahuan tentang ICT, untuk ini perlu dilakukan sosialisasi maupun
kesempatan kepada pengelola untuk mendalami bidang ICT
2.Kurangnya
ketrampilan pemanfaatan IT, sehingga perlu sosialisasi / trining dalam
memanfaatkan infrastruktur pendukung otomasi perpustakaan.
3.Banyaknya
software yang ditawarkan, untuk ini perlu pendalaman dan konsultasi dengan
berbagai pihak yang terkait berkenaan dengan kelebihan dan kekurangan dari
masing-masing software
4.Kurangnya
komunikasi antara penyandang dana, pengelola perpustakaan, teknisi dan pengguna
perpustakaan, sehingga perlu komunikasi dan koordinasi antara pimpinan, staf
dan teknisi dalam memutuskan untuk otomasi perpustakaan.
Daftar Bacaan
Arif, Ikhwan. 2003. Konsep
dan Perencanaan dalam Automasi Perpustakaan. http://aurajogja.wordpress.com/2006/07/11/otomasi-perpustakaan/ diakses tanggal 20 April 2011 .
Purwono. 2008. Otomasi Perpustakaan: Pengenalan Otomasi Perpustakaan http://maspurwono.multiply.com/journal/item/9/OTOMASI_PERPUSTAKAAN diakses
tanggal 20 April 2011.
Wicaksono. Hendro. 2008.. Salah Kaprah Perpustakaan
Digital di Indonesia http://pustaka.uns.ac.id/?opt=1001&menu=news&option=detail&nid=33
diakses tanggal 17
November 2008
Corbin, John. Managing the Library Automation Project, Oryx Press,
Canada, 1985.
Duval, Beverly K., Main, Linda. Automated Library Systems : a
Librarian’s Guide and Teaching Manual, Meckler, London, 1992.
Dokumentasi Senayan versi stable 14. < http://senayan.diknas.go.id/download/docs/s3-doc-id.pdf
> 24 Juli 2008
Salmon, Stephen R. Library Automation Systems, Marcel Dekker, New
York, 1985.
Materi TOT Technologi Information &
Communication oleh Unesco dan Pusnas RI di Yogyakarta 1999
Konsep, Desain dan Implementasi Perpustakaan
Elektronik : Integrasi Perpustakaan Terotomasi dan Perpustakaan Digital Untuk
Perpustakaan Nasional di Indonesia Oleh: Ismail Fahmi
Model Implementasi Protokol OAI dalam
IndonesiaDLN dan Hubungannya dengan Digital Library di Luar Negeri oleh Rurie
Muharto.

nice post, gan...
BalasHapusbest regards form e-ddc edition 23 :)